Sunday, November 18, 2012

Picture of Human in Siem Reap

Entah kenapa ketika melakukan perjalanan ini gue banyak menangkap wajah-wajah penduduk lokal yang secara ras masih sama dengan kita, Asia.

 #1 Bulu Tangkis 



Anak ini sedang bermain bulu tangkis bersama ayahnya. Bermodalkan raket dan kok mainan tidak menurunkan semangat anak ini. Bulu tangkis memang olahraga diseluruh dunia. -Disuatu gang di Siem Reap-

#2 Semangat



Kedua wanita ini penjaga salah satu toko. Saat itu udara di Siem Reap panas tak tertahankan. Namun, bekerja tetaplah bekerja. Tenda ini dipasang untuk mengurangi panas yang dirasa. Walaupun panas menyengat mereka tetap harus berjualan. -Salah satu toko Old Market-

Saturday, November 17, 2012

People I met

Perjalanan sendiri ini membuat gue bertemu beberapa orang dari negara berbeda. Sedikit banyaknya gue  bertukar cerita dengan mereka. Gak semua nama gue inget, cuma negara asalnya.

#1 A lady from France

Gue ketemu cewek ini ketika lagi belanja di Old Market. Tanpa sengaja kita masuk toko yang sama. Dia nyapa gue yang gue balas dengan senyuman. Cewek ini berasal dari Perancis yang sedang kuliah di Italia. Libur semester dia menjadi guru sosial disalah satu desa di Kamboja. Ketika mendapat off 3 hari, dia memilih Siem Reap yang paling dekat dari desa dia tinggal. 

#2 Two ladies from Indonesia

Bernama Evie dan Sandra. Mereka ini traveler Indocina. Berniat ramean tapi berujung cuma pergi berdua namun gak menurunkan semangat mereka untuk taveling. Memulai perjalanan dari Hanoi  - Ho Chi Minh City - Phnom Penh - Siem Reap - dan Bangkok adalah tujuan akhir mereka baru kembali ke Indonesia dengan transit di Kuala Lumpur (Airasia victims...hehehe). Perjalanan mereka standar perjalanan Indocina yang dimulai dengan pesawat ke Hanoi sisanya jalur darat sampai Bangkok kemudian balik lagi naik pesawat sampai Indonesia. Gue ketemu mereka ketika sedang makan malam di hari pertama. Mereka salah satu yang menginspirasikan gue untuk ke mengambil tantangan jalan darat ke Bangkok.



Wednesday, November 14, 2012

7 hours and USD 25 in (suddenly) Bangkok - August 2012









Perjalanan darat dari Siem Reap ke Bangkok

Cerita ini lanjutan dari cerita Siem Reap. Cerita sebelumnya klik Siem Reap.


Setelah sarapan gue nunggu dijemput mobil yang katanya akan datang jam 8 pagi. Sambil nunggu gue ngobrol dengan seorang anak dan ayah yang sama tujuan ke Bangkok. Jemputan kita datang lewat setengah jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Mobil pertama ini semacam elf dengan kapasitas 10 orang lebih. Ternyata mobil ini harus jemput beberapa orang dulu dan berhenti didepan salah satu penginapan lalu meminta kita semua untuk pindah ke bus yang lebih besar. Jangan mengira bus antar kota ini merupakan bus AKAP layaknya bus-bus di Indonesia, bus ini lebih seperti angkutan umum dalam kota yang lama gak dirawat. Gue dapat duduk paling depan karena semua kursi ternyata sudah diisi orang-orang macam gue yang niat ke Bangkok lewat jalur darat.

tweet : From Tom Raider to Hangover. From Lara Croft city to Bradley Cooper City.


Sunday, November 11, 2012

What so-called an education...


Beberapa waktu lalu gue sempat mengobrol dengan teman yang lagi training di India. Pembicaraan dimulai ketika sang teman sangat tetarik dengan negara India dan Cina yang berujung pada kesimpulan bahwa sumber daya manusia mereka itu luar biasa. Bahkan ketika ada lomba mengeja untuk anak-anak SD di Amerika Serikat, lomba ini dimenangkan oleh warga negara Amerika Serikat yang orang tuanya berasal dari India, contoh dari sang temen. Sang teman pun menambahkan bahwa di India ada pepatah "You never win the silver, you lose the gold", jadi walaupun juara dua tetap aja dianggap pencundang. Well, itu memang salah saru contoh sih, tapi pada dasarnya didikan mereka itu memang keras dan cenderung kejam, if I may say that. Menuntut yang terbaik ke si anak tapi caranya terlalu ekstrim dan jadi kasian si anak. Dan pernyataan gue ini pun dibalas dengan pertanyaan "Mending dikejamin orang tua atau dikejamin kehidupan?" dan gue pun terdiam beberapa saat.

"Mereka kayak gitu karena mereka mempersiapkan anaknya buat bekal hidup. Sekejam-kejamnya orang tua mereka masih sayang sama anaknya. Kalau kehidupan?", dia pun menambahkan.

"Gue gak bilang barat lebih baik ya, tapi gue senang dengan budaya barat yang gak terlaku maksain otak kiri kita. Ini kan yang banyak dilakukan oleh orang Indonesia?. Tapi disisi lain gue juga senang dengan budaya timur yang selalu minta untuk "push to the limit". Dan seharusnya bisa donk kita campur kedua budaya itu buat pendidikan?", bela gue.

"Idealnya memang begitu, tapi kan Indonesia di timur", kata dia.

Life happens


Meminjam salah satu judul bab yang ada di buku ‘Catatan Mahasiswa Gila’ karangan Adhitya Mulya. Yes It’s indeed life happens. Kalau saja kita lebih bisa membuka pikiran positif kita dan atas banyak alasan yang seharusnya baik untuk kita, hidup memang penuh kejutan. Salah satu nya pengalaman hidup saya.

Kadang saya merasa ingin balik ke kantor lama, rindu ERS dengan segala pekerjaan dan pertemannya.  Sejujurnya saya menyukai pekerjaan semacam itu dengan segala tantangan yang tidak membuat bosan. Merasa menyesal? pernah kok! Tapi bukan berarti penyesalan tiada akhir.  Semua pasti ada trade-off nya.  Hal-hal yang menurut saya sebuah pengalaman yang tidak perlu dilupakan tapi dikenang. Ya saya akan berbagi beberapa hal yang saya dapatkkan dari kantor lama. 

Pertama kali menyandang gelar sebagai pekerja, saya kedapatan project Risk Management di salah satu Bank ternama di Indonesia. Proyek ini dikerjakan bersama Deloitte Singapore dan Deloitte Australia. Bisa dibayangkan anak baru lulus macam saya dengan Bahasa Inggris ala kadarnya, harus kerja bareng bule. Walaupun kebanyakan diamnya daripada berkicau, Alhamdulillah saya berhasil melewati tantangan pertama dan berhasil menjalin pertemanan dengan salah satu staff DC Singapore. Hey Cynthia, how are you?

Kedapatan manager orang padang totok yang membukakan pintu rejeki buat saya menjadi pengajar privat adek kakak Corinna Soetoyo dan Celestia Soetoyo. My big thanks to Bang Iyal.

Project diujung utara Jakarta yang membuat saya dan Nadina harus kos selama satu bulan. Hahaha, paling tidak saya jadi pernah merasakan yang namanya kos sebagai pekerja. 

Project yang bikin jetlag pesawat dari Singapore Airlines dan besoknya langsung terbang naik Linus Air yang bahkan saya gak tau airlines apa itu. Dari salah satu kota megapolitan di Asia tenggara ke tengah hutan sawit di Kalimantan sana. What an experience!

Bertahan sendiri untuk satu project dari mulai planning sampai reporting dan melakukan stand-alone conference call dengan staff Deloitte San Fransisco. Pernah berharap, suatu hari nanti saya harus bertemu Tyler. 
Directly or indirectly been working with Deloitte Singapore, Malaysia, San Fransisco, Shanghai, New York, Japan, Houston, Australia and New Zealand. Certainly they gave me many experiences.