Saturday, January 3, 2015

Dari Yang pernah bercita-cita jadi Menteri Pariwisata

Abis membaca tulisan dari beberapa travel blogger yang intinya tentang surat terbuka untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kritik dan saran untuk kemajuan pariwitasa Indonesia dari mereka-mereka yang cinta Indonesia dan peduli akan pariwisata Indonesia.

Dan gue jadi keikutan pengen nulis, iya emang anaknya ikut-ikutan. Tapi tulisan ini bukan tentang surat terbuka, cuma tulisan dari bocah yang pernah bercita-cita jadi Menteri Pariwisata. Hooh aneh emang cita-citanya, sampai ketika di facebook ada semacam games “how well do you know me?” hal ini gue jadiin pertanyaan, “gue mau jadi menteri apa?” .. Banyak yang salah jawab ketika itu, gue yang berlatar belakang pendidikan sebagai akuntan diduga ingin menjadi Menteri Keuangan.. Hahaha, salah besar saudara-saudara! :P Well currently I trapped as a government slave instead yang masih senang jalan-jalan dan sedikit menulis.

Travelling hari gini makin trendy yaa, semacam ketinggalan jaman kalau long weekend cuma di rumah.. *iya ini gue juga masih sering merasa kayak gini kok* .. Hahaha. Apapun alasannya semakin banyak orang yang jalan-jalan. Ah menurut gue orang dari dulu juga jalan-jalan sih, cuma saja dulu teknologi belum secanggih sekarang yang seluruh dunia bisa tau kita lagi kemana ama siapa #eh . Dulu bukti sebuah perjalanan hanya bermodalkan kamera film yang kudu cetak baru foto bisa dilihat dan itupun hanya kita sendiri yang menyimpan, cuci cetak aja mahal, boro mau cetak lebih buat dibagi ke orang. Hahahahahaha.... 

Kalau ditanya kenapa sih Ri, segitunya pengen jalan-jalan terus. Jawaban pertama pasti “PETA”. Kenapa gitu? Iya karena seinget gue (sebelum gue dibelikan majalah Bobo, komik donal bebek, sampai majalah kawanku & gadis) buku pertama yang dibuka Papa didepan mata gue itu ATLAS INDONESIA & DUNIA, dan Atlas ini masih gue simpan sampai sekarang padahal gue yakin itu negara banyak yang udah berubah, secara di Atlas itu Russia masih disebut Uni Soviyet.


Gue sangat senang melihat nama-nama kota di Indonesia & Dunia yang berujung pernah membantin (entah umur berapa saat itu) “gue mau datang ketempat-tempat itu ah kalo udah gede”. Jaman gue kecil belum ada internet jadi gak pernah tahu tuh tempat-tempat bentukannya seperti apa.


Dan disinilah gue, dengan segala keterbatasan anak gang sanip yang waktu kecil diajak ke Pantai Carita sudah jejingkrakan, manalah kepikiran ketempat di Indonesia yang luar biasa cantiknya (dangerously beautiful of Indonesia kalo kata orang-orang), boro kepikiran keluar negeri, padahal pernah ngeces ngeliat tempat tinggal suami tante yang asalnya dari New Zealand. Gedean dikit lahirlah mall-mall besar di Ibukota, diajak kesini juga seneng nya bukan main. Maklum gue kan kehidupan ekonomi apa adanya yak, diajak ke mall pun sama om. Eh tapi pernah sih jalan agak jauh dikit ke Pekanbaru waktu umur 2 tahun, ke Padang & Semarang waktu SMP, dan ke Studi Tour ke Malang waktu SMA.

Lanjut ketika gue sudah mulai kerja, sudah menghasilkan duit dan sudah bisa jalan-jalan pake duit sendiri dan bisa keluar negeri, sampai bisa kepikiran mau jadi Menteri Pariwisata. Aarrghh dulu gue gregetan “Negara gue ini cantiknya luar biasa, tapi kenapa tuh bule cuma tau Bali, ini kementrian pariwisata gimana sih” *nyalahin orang aja, Ri*. Hahaha. Oh iya bahkan dulu sempet beredar rumor “Turis mancanegara tau Bali, tapi gak tau kalo Bali itu di Indonesia”.

Dengan segala idealisme gue yang cetek, yap gue akhirnya bilang “pengen jadi menteri pariwisata deh” tanpa aksi nyata tentunya.. hahaha. Tapi temen gue yang sedikit serius menyarankan “jadi staf ahli menteri aja, Ri ketauan ada kerjaannya, kalo Menteri doank cuma boneka”. Seiring berjalannya waktu dan segala problematika yang gue alami, kandas sudah cita-cita gue., Lagian ya Ri, jadi menteri kan politik. Situ aja enek sama politik, mimpi jadi menteri!.. hahaha. Ya sudahlah jadi pekerja kantoran saja, kerja kerja nabung trus jalan-jalan. #supercetek :)))

Woi ini kan mau ngomongin masalah pariwisata, jadinya malah kemana-mana. OK balik ke masalah wisata Indonesia dan dari pengalaman yang pernah gue alami. Sebenarnya gue rada bingung siapa yang paling bertanggung jawab dalam memulai pengembangan pariwisata? Pemerintah pusatkah yang dalam hal ini Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif? Atau Pemerintahan Daerah, dimana Dinas Pariwisata daerah berada dibawah naungan Pemda setempat bukan Pemerintah Pusat. *Gue sudah cross-check ke beberapa teman dan memang Dinas Pariwisata daerah berada dibawah naungan Pemda setempat*

Lupakan dulu masalah itu, gue akan cerita pengalaman saja. Ketika masih menjadi office slave yang punya pekerjaan banci antara konsultan dan auditor, gue berkesempatan training di Pattaya, Thailand. Saat itu gue nginep di Dusit Pattaya. Entah ini inisiatif hotel atau EO nya, di dalam kotak souvernir ada 3 lembar kertas yang judulnya:
1.     Fast Facts : Isinya tentang gambaran umum Thailand. Country Full Name; Population; Currency; Electrial Plugs; Language Spoken; Time Zones; Country Dialing Code; dan Weights & Measurement.
2.     Do’s and Don’ts in Thailand : Lebih ke bentuk negara Thailand itu seperti apa, agamanya apa, dan sebagai negara yang pariwisatanya berhubungan dengan agama yang dianut, dikertas itu dijelasin do’s and don’ts nya kalau mau mengunjungi tempat ibadah yang juga tempat wisata.
3.     Thai Langunge : Kata-kata yang umum digunakan dalam percakapan dasar.

Jujur gue nemu kertas ini juga setelah beberapa tahun kemudian ketika lagi beres-beres. Yang terlintas di pikiran saat itu “ini keren!” gue gak tau apakah hal ini rata diaplikasikan di seluruh Thailand, atau kebetulan cuma inisiatif EO saat itu aja. Tapi ini hal baik, bisa banget dijadikan contoh untuk acara berkelas international secara Indonesia kaya akan budaya, sebagai pengenalan dasar budaya setempat yang dijadikan lokasi untuk pertemuan international. Gue gak update sih, tapi mungkin di Indonesia pun hal ini sudah diterapkan. I hope so!

Di Indonesia, gue beranggapan Sail Morotai itu gagal. Ketika gue ke Morotai tahun 2013, gue menginap di homestay penduduk lokal di Pulau Koloray, satu-satunya pulau berpenghuni dijajaran pulau lainnya di Morotai. Di depan rumah penduduk ini ada tulisan “Sail Morotai 2012. Homestay. Penginapan Rakyat”. Tulisan ini bikin gue penasaran dan bertanya ke Ibu yang punya rumah tentang homestay mereka ketika sail Morotai ini berlangsung.


Gak diduga jawaban si Ibu bikin gue kaget “wah, saat itu mah gak ada yang dateng kesini Mbak, padahal rumah-rumah disini sudah disiapin untuk dijadikan penginapan”. Gue berasa “deg, kok bisa bu?”. Jadi nampaknya ada koordinasi yang buruk antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang merasa lokasinya akan digunakan untuk perlehatan tahunan ini diperintahkan oleh pemerintah pusat (nyang punya acara), untuk memberdayakan penduduk setempat. Dari mulai penginapan sampai kerajinan tangan. Semangatlah pemerintah daerah dan penduduk setempat. Rumah dan jalan diperbagus, mereka diminta untuk membuat banyak kerajinan tangan (anyaman) untuk bisa dijual. Ini gak makan biaya sedikit sih yaa, apalagi ketika hari H gak ada satupun peserta sail morotai yang datang ke tempat ini, berasa banget ruginya. Lebih tepatnya para peserta gak tau, bahkan tempat ini gak tercata dalam list penginapan yang tersedia untuk sail morotai. Si Ibu tau dari Bule yang beberapa hari setelah acara selesai datang kesini, dan bilang ketika acara itu berlangsung beliau gak dapat informasi adanya penginapan di sini. Entah gimana koordinasinya sama pemerintah pusat yak ini, gue sedih banget denger cerita si Ibu. Penduduk sini kan udah ngarep banget akan dapat tambahan pendapatan dari penginapan dan kerajinan tangan, eh tiba-tiba gak ada gitu yang muncul. Sakitnya tuh disini *nunjuk dada #eh lagu itu belum ada yak. Cerita si Ibu bikin gue sangat yakin, paling tidak dalam pandangan gue sendiri, kalau Sail Morotai itu gagal!

Anyaman yang dibuat penduduk Koloray.
Desember kemarin gue liburan ke Belitong, pulau dan kota yang terkenal sejak novel Andrea Hirata yang berjudul “Laskar Pelangi” diangkat jadi film dan berlokasi syutting di sini. Satu yang bikin gue terkesima, jalanannya mulus cynnnn gak gradakan goyang goyang layaknya pulau kecil di Indonesia pada umumnya. Supir gue bilang, disini pendapat sama pengeluaran daerahnya masih lebih gede pendapatan Mbak, makanya digunain buat benerin jalan. Mmhm agak bingung pendapatannya darimana secara hampir semua tempat wisata gratis dan mineral utama kota ini which is Timah produksinya udah terjun bebas. Pikiran positif gue sih, pemerintahnya aja yang memang bener gunain dana, first thing to do itu benerin infrastuktur jalan yang memang akses utama untuk menghubungkan tempat wisata satu dan yang lainnya *gue bicara ini dari kacamata wisatawan*

Jalan di Belitong

Pengalaman lain, gue pernah ikutan workshop yang pembicarnya dari FAS Korea (OJK nya Korea). Ketika lagi break, di pembicara muterin video pariwisata Korea dan Band korea yang lagi booming. Mereka bilang, sebagai pekerja pemerintahan walaupun bukan bagian Pariwisata, diwajibkan juga untuk memasarkan pariwisata dan budaya Korea. Jadi mereka harus membawa video pariwisata dan diputer disela-sela workshop. Kind a good idea, though!

Nah, dari pengalaman gue itu, kekurangan pariwisata Indonesia ada di lemahnya koordinasi. Setuju banget pengembangan pariwisata melibatkan banyak instansi, tapi justru letak kelemahamnnya, koordinasi antar Instansi. Gue kurang paham sih dengan struktur yang ada ketika Dinas Pariwisata daerah berada di bawah naungan Pemda apakah kendali ada di Pemerintahan Daerah? Kalau iya, peran Pusat apa? Marketing doank? Kalau iya, apakah ada guideline yang turun ke Daerah untuk pengembangan pariwisata dari pemasaran pariwisata yang udah dilakukan Pusat, biar in line gitu. Kalau gak ya gak ketemu, si pusat masarin apa, si daerah ngembangin apa. Gak ada prioritasnya. Menurut gue untuk fokus pengembangan, prioritas dan dana tetap jadi peer pemerintah pusat dan daerah. kalau kayak kasus Belitong, gue yakin yang memperbaiki jalan adalah pemerintah daerah. 

Jadi peran wisatawan dan travel blogger apa?.  Penikmat dan pemasar terselubung macam travel blogger itu gak bisa langsung mengubah infratruktur yang jelek jadi bagus. Mereka cuma bisa bilang tempat A bagus, tempat B keren, tempat A kurangnya disini, tempat B kurangnya disini dan memberi masukan ke Pemerintah. Mereka bisa menjadi semacam intermediator ke Pemerintah untuk pengembangan pariwisata, dengan surat terbuka untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, contohnya. Sementara itu, hal nyata yang bisa mereka lakukan adalah menjadi pejalan yang bertanggung jawab. I am sure, they did!

Soal pemodal asing, mmhm agak bingung yaaa.. menurut gue Indonesia itu sumber daya alam dan manusia melimpah, tapi gak punya modal. Siapa yang punya modal? Ya asing, turunin idealisme dikit deh, bener kan yang bisa bangun resort mewah itu Asing. Iya karena mereka punya duit dan mereka yang willing untuk investasi di sektor pariwisatanya Indonesia. Sekarang ini banyak hal tentang bisnis. Nah peran pemerintah nih yang harusnya kasih batasan, sejauh mana investasi asing dan sejauh mana mereka harus tunduk sama aturan kita dalam hal pengembangan pariwisata. Kalau peraturannya jelas dan diterapkan benar, bisa jadi simbiosis mutualisme harusnya. Apalagi ini udah 2015, udah AFTA. *mendadak panik melanda*

Udah ah kepanjangan. Tulisan ini bukan ajang kritik dan saran, cuma pengalaman dan pendapat gue, yang belum tentu benar adanya, tapi mungkin bisa sedikit dipikirkan. *sama siapa, Ri?, sama siapa aja yang mau baca kali yak*... Hahaha.
Semoga pariwisata Indonesia makin maju.. aamiin.

*keep travelling and be responsible traveler*

2 comments:

  1. Mungkin dilain perjalanan kamu nanti Ri, sambil travelling ke negera tetangga kamu juga bawa ya yang namanya brosur pariwisata Indonesia, tunjukkin ke mereka ini loh negara gue...!! secara kamu juga bilang Indonesia itu emang sialan cantiknya...hahaha, oke gue gak bisa bantu nemenin jalan jalan cuma bisa bantu ngakalin bikin surat cuti aja yahhh...tetap semangat jadi Menteri Pariwisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku selalu promosiin Indonesia kok walaupun gak langsung dan tanpa brosur... lewat foto atau via google kalo aku belum pernah ke tempatnya.. aku sering bilang "you can have everything in Indonesia except snow" .. Hehehe, eh ada sih di Cartenz, Puncak Jaya Wijaya tapiya :')

      Delete