Friday, June 29, 2012

Fakta Menarik dibalik kata "Batik"


Tanpa bermaksud plagiat tulisanya Ve Handojo, gue cuma pengen re-post tulisan dia dari buku The Journey 2 dengan judul "Berburu Gajah, Garuda dan Naga ke Trusmin". Menariknya dari tulisan ini adalah fakta dibalik kata "batik" yang mungkin banyak dari kita juga mengira batik adalah sebuah kain, tapi ternyata bukan.

Berikut ringkasan hal-hal yang menurut gue cukup penting untuk diketahui.

Ternyata batik bukan punya Indonesia saja! Menurut salah satu maestro Batik Indonesia yang sudah almarhum, Bapak Irwan Titra, secara harfiah “batik” adalah teknik menghias permukaan kain (tekstil) menggunakan metode menahan pewarna (dye resist).  Banyak artefak-artefak berupa kain yang dihias dengan metode seperti ini. Yang paling tua itu asalnya dari Mesir pada abad keempat sebelum masehi, dan dari Cina pada abad kedepalan Masehi. Malaysia amat berhak meng-klaim bahwa mereka punya batik, tapi itu adalah Batik Malaysaia. Beda nya Batik Indonesia dengan Negara lain itu karena Indonesia melakukannya dengan teknik canting.  Penggunaan canting untuk membuat batik tulis ini yang menjadikan batik Indonesia berbeda dengan yang lain-lain. Sementara itu, di Malaysia, orang membatik menggunakan kuas dan di Eropa tidak satu pun yang menggunakan canting.

Selain penggunaan canting, batik Indonesia juga menjadi istimewa karena nilainya yang melebihi dari kesadar bahan pakaian. Jadi begini, kalau kita Tanya ke pebatik Negara lain apa makna dibalik motif bunga mawar yang mereka gambar, maka mereka akan memandang kita dengan tatapan sinis dan bilang “Ya artinya bunga mawar! Mau makna apa lagi?!” Sementara, kalau kita ditanya apa makna sepasang sayap di sehelai kain Batik asal solo, bisa menjelaskan banyak hal tentang Indonesia.

Dan pengerjaan sehelai kain baik tulis memakan waktu empat bulan hingga setahun penuh. Kerumitan pembuatan sehelai batik tulis bukan hanya terletak di penggambaran motif-motif nya yang sangat detail, tapi juga diproses pewarnaannya yang rumit dan harus dilakukan berulang kali.  Kain katunnya pun tidak bisa begitu saja langsung dibatik. Kain tersebut harus direbus dan didihkan dulu. Dipukul-pukul supaya seratnya bisa menerima malam dan diwarnai.

Berbagai proses yang rumit inilah yang sebenarnya diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Jadi jangan salah kaprah! UNESCO bukan “memberikan” atau “mentabiskan” batik sebagai milik Indonesia. UNESCO mengakui Batik Indonesia sebagai *Warisan Budaya Dunia Tak Benda*. Artinya, yang diakui bukannya “benda-nya”. Bukan sehelai kain batik. Bukan motif-motifnya. Yang diakui sebagai warisan budaya dunia adalah prosesnya. Tepatnya, proses pembuatan Batik Tulis, bukan batik cetakan atau sablonan. 

Kalau masih ingin tau lebih banyak tentang Batik Indonesia atau tulisan Ve Handojo yang lain bisa buka  di http://venhandojo.wordpress.com


Gianyar, Bali

Salah satu foto ketika saya mengunjungi pembuatan batik tulis di Gianyar, Bali.
Batik tulis dengan teknik canting yang dinobatkan sebagai World Heritage "Warisan Budaya Tak Benda" oleh UNESCO.

Sunday, June 24, 2012

Mengejar Windy Ariestanty

Sebelumnya minta maaf dulu ya ke pembaca, karena belum selesai curhat tentang Dieng, udah loncat ke tulisan ini.. dimaafkan kan ya pembaca... Hehe

Jadi intermezzo ini berawal dari gue mungut brosur di jembatan penyebrangan depan ratu plaza. *penting gilak ya bo, tiba-tiba gue kepirikan aja gitu mungut brosur yang bertebaran di jembatan..hahaha* .. tapi ternyata penting buat gue karena brosur itu berisi Katalog Acara Jakarta Book Fair 2012, yang mana dulu gue hampir gak pernah ngelewatin event tahunan ini. tapi sejak lebih sering beli buku online yang diskonnya lebih gede gue udah jarang datang ke book fair. 

Menariknya dari brosur itu karena salah satu acara untuk hari minggu 24 Juni 2012 adalah talks show penulis buku The Journey 1 dan The Journey 2, yaitu : Windy Ariestanty, Alexander Thian, Valiant Budi, Farida Susanti, Ferdiriva Hamzah, Trinzy Mulamawitri, Rahne Putri. (that's what stated there). Sebenarnya dari nama-nama yang disebutin gue cuma tau 2 orang, pertama Windy Ariestanty (one of my favorite writer) yang nulis buku "Life Traveler" dan kedua Valiant Budi yang nulis buku "Kedai 1001 Mimpi".